Berkarakter, Berwawasan, Beriman
Batang Kapeh, —
Hampir dua tahun rumah menjadi tempat efektif belajar secara online, dampak dari wabah pandemi covid-19. Belajar secara online dikenal juga dngan istilah daring akronim dari dalam Jaringan menggunakan media internet tentunya. Lawan dari Daring adalah Luring singkatan dari luar jaringan atau belajar dengan tatap muka.
Belajar daring akan menimbulkan rasa bosan yang selalu menjadi keluhan setiap siswa, bahkan ada beberapa siswa yang memilih untuk berhenti sekolah karena kurangnya fasilitas yang memadai. Sayang rasanya, jika mereka harus putus sekolah, karena kurangnya ekonomi. Pengaruh pendemi ini membuat perekonomian masyarakat semakin menurun. Sementara keadaan memaksa kita untuk mengikuti perkembangan zaman yang kian instan seperti lembaga pendidikan di tuntut untuk memiliki fasilitas yang cukup memadai.
Saya Omar Ibrahim siswa SMA yang saat ini duduk di kelas XI merasakan betul dampak buruk dari wabah ini. Pembelajaran secara daring membuat saya sedikit tertekan, belajar di rumah seolah-olah terasa menjadi dua kali lipat dari normalnya. Mulai dari kurang pahamnya dengan materi hingga harus menghadapi mood dalam mengerjakan tugas. Bahkan untuk pembelajaran luring pun waktu untuk bersama guru menjadi lebih tidak efektif, karena adanya kebijakan lembaga pendidikan terkait pembelajaran darurat selama pendemi yang membuat terjadinya pengurangan waktu belajar. “Bukankah hal itu selalu didambakan setiap siswa? Bukannya banyak bermain ketimbang belajar menjadi lebih asik?” Benar, semua pertanyaan itu benar, namun itu dulu sebelum virus ini menjadi alasan dari semua pertanyaan itu. Pembelajaran daring hanyalah tentang menjawab salam dan kumpulkan tugas. Paham dan tidak paham pun menjadi hal yang harus di maklumi. Bagi mereka yang tinggal di pelosok bukan hanya tugas yang menjadi alasan utama, namun sulitnya akses internet yang selalu menjadi alasan permasalahan di dalam daring, sehingga terkadang harus memaklumi kurangnya kehadiran, dan berharap semoga hari selanjutnya menjadi lebih efektif.
Pembelajaran daring membuat generasi ini semakin hancur lantaran metode pembelajaran yang tidak efisein. Saya pribadi sangat melihat perbandingan generasi kami dengan generasi-generasi sebelum nya, apalagi pengaruh zaman yang membuat belajar bukan hal yang utama lagi untuk beberapa siswa.
Dalam pembelajaran tatap muka para siswa seharusnya masuk sesuai jadwal yang di tentukan. Wajib menerapkan 5M (mencuci tangan, memakai masker, menghindari kerumunan, menjaga jarak, dan mengurangi mobilitas). Ini adalah peraturan yang amat tegas dihimbau oleh pihak sekolah. Jika para siswa tidak mematuhi protokol kesehatan, maka tidak di perkenankan mengikuti pembelajaran tatap muka. Selain itu, sekolah telah menyiapkan westafel di setiap depan kelas agar para siswa dapat menjaga kebersihan tangan, dengan begitu akan meminimalisir berkembangnya covid-19. Bahkan dalam was-was nya terhadap penyebaran virus ini, pemerintah membuat sistem sekolah dalam bentuk per sif atau bisa di sebut dengan hybrid learning. Jadi para siswa yang hadir dibagi menjadi dua gelombang, dengan begitu jumlah siswa yang hadir dalam kelas hanya setengah dari biasanya. Setengah lagi mereka tetap daring di rumah, maka akan di wajibkan hadir di minggu berikutnya setelah kelompok pertama. Manfaat metode ini, bertujuan agar berkurangnya aktivitas kerumunan para siswa. Akan tetapi, kebijakan pembelajaran tatap muka ini tidak lah suatu paksaan dari pemerintah. Semua di serahkan kepada pihak sekolah yang telah mengetahui segala konsekuensinya. Tapi tentunya ada beberapa syarat yang harus terpenuhi untuk melangsungkan pembelajaran per sif ini, di antaranya kawasan sekolah tersebut dalam keadaan zona hijau atau kuning, dan pastinya para warga sekolah harus bersedia mengikuti protokol kesehatan. Bagaimana jika orang tua murid tidak setuju? Pihak sekolah harus menulis surat pernyataan izin wali murid . Dalam surat itu dijelaskan bahwa orang tua siap mengizinkan anaknya untuk mengikuti pembelajaran tatap muka walaupun dalam situasi covid-19. Hampir semua orang tua setuju dengan kebijakkan ini, karena memang pembelajaran tatap muka lebih efektif, bahkan bisa di bilang seratus persen siswa sangat setuju dengan pembelajaran tatap muka.
Gimana sih caranya agar kita bisa nyaman belajar dengan sistem ini? Tentunya kita harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, mencoba menjadi pribadi yang berfikir proaktif, mencari cara “gimana sih belajar yang membuat kita nyaman” yah pastinya setiap orang memiliki cara berbeda dalam belajar. Kita bisa memanfaatkan beberapa aplikasi yang ada dalam gudget. Salah satunya aplikasi zoom, dimana di sana kita bisa melakukan pembelajaran tatap muka via online. Walaupun hanya sebatas virtual, setidaknya melalui aplikasi ini kita bisa menyaksikan guru menjelaskan tugas yang di berikan agar lebih paham. Dengan begitu saat tatap muka kita bisa lebih aktif dalam pembelajaran.
Komunikasi antara orang tua murid, komite, dan guru memanglah hal yang wajib, apalagi dalam masa pendemi ini. Karena keselamatan siswa di sekolah sepenuhnya tanggung jawab guru dan juga orang tua. Oleh karena itu orang tua harus memberi support kepada pihak sekolah agar tumbuhnya rasa saling percaya, dengan begitu para guru akan jadi lebih mudah menumbuhkan rasa tanggung jawab nya kepada peserta didik. Bahkan guru juga berperan dalam mengedukasikan bahaya wabah yang dihadapi, memberikan pemahaman agar wawasan para murid tentang virus ini semakin meningkat dan menjadikan mereka lebih waspada . Begitu juga orang tua, lebih memperketat aturan di rumah agar sang anak tidak leluasa ke luar rumah dengan melarang berkumpul yang tidak begitu penting dan selalu mengingatkan protokol kesehatan, bahkan juga lebih meningkatkan imun anak agar tidak mudah tertular virus. Lantas masih adakah elemen lain yang berperan? Tentu, satgas kesehatan adalah garda terdepan dalam memerangi virus ini berperan penting sama hal nya dengan orang tua dan guru. Satgas berperan dalam pemeriksaan kesiapan sekolah dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, ketentuan apa yang harus di penuhi sekolah agar bisa melakukan pembelajaran tatap muka, pengecekkan fasilitas protokol kesehatan sekolah apa sudah memadai, seperti thermogun, cairan pencuci tangan dan handsaniteizer hingga melakukan sosialisasi kepada siswa agar tumbuhnya kesadaran untuk menjaga kesehatan. Di samping itu komite berperan dalam menjembatani komunikasi antara pihak sekolah dan wali murid, ikut serta dalam pengawasan terhadap keamanan sekolah terutama terkait penangulangan covid-19.
Semua ini kembali kepada diri kita masing-masing. Meski kita di hadapkan dengan wabah pendemi, pembelajaran mesti tetap berlanjut, karena pendidikan adalah hal yang wajib. Semua permasalahan yang kita hadapi dalam pembelajaran daring akan ada solusinya. jadi, tidak ada kata berhenti dalam menuntut ilmu. kita tidak tahu kapan pendemi ini akan berakhir, maka itu teruslah mengejar semua mimpi-mimpi yang ingin digapai.
Catatan; Omar Ibrahim adalah Siswa SMA 1 Batang Kapas
Sumber : Mari Kita Bangkit Bersama Daring (Oleh: Omar Ibrahim) – PILAR BANGSA NEWS
Komentar (0)